PELATIHAN MODUL GESI DI TRENGGALEK: WUJUDKAN TATA KELOLA HUTAN YANG INKLUSIF

PELATIHAN MODUL GESI DI TRENGGALEK: WUJUDKAN TATA KELOLA HUTAN YANG INKLUSIF

2025-05-08
Pelatihan & Pendampingan

Wonocoyo, Trenggalek – Sabtu, 26 April 2025
Sebagai bagian dari rangkaian riset “Centering Gender and Ecological Justice in Southeast Asian Forest Landscape Governance”, sub-tim Jawa Timur menyelenggarakan pelatihan modul peningkatan kapasitas masyarakat bertema Gender Equality and Social Inclusion (GESI) dalam konteks pengelolaan lanskap hutan. Kegiatan ini berlangsung di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek dan difasilitasi oleh LeSEHan (Lembaga Studi Ekosistem Hutan) – Madiun, dengan dukungan Recoftc – Bangkok.
Pelatihan ini bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya penerapan prinsip kesetaraan gender dan inklusi sosial dalam tata kelola hutan. Sebanyak 22 peserta hadir dalam pelatihan ini, terdiri dari perwakilan Kelompok Tani Hutan (10 orang), Kelompok Wanita Tani (6 orang), Pokdarwis (2 orang), Pokmaswas (2 orang), serta perwakilan dari Cabang Dinas Kehutanan dan Pemerintah Desa Wonocoyo.
Sesi pertama yang berlangsung pukul 09.00 – 12.00 WIB disampaikan oleh Wilis Werdiningsih, M.Pd.I, seorang ahli gender dan pembangunan inklusif. Dalam paparannya, ia menjelaskan konsep dasar GESI, menyoroti perbedaan antara jenis kelamin dan gender, serta memperkenalkan indikator-indikator kesetaraan gender seperti akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat. Wilis juga mengajak peserta untuk mengenali berbagai bentuk ketidaksetaraan gender yang terjadi di tingkat komunitas.
Setelah istirahat siang, sesi kedua dilanjutkan pada pukul 13.00 – 14.30 WIB oleh Prof. Rahmanta Setiahadi, pakar tata kelola hutan dan ekologi. Ia mengangkat tema Participatory on Forest Landscape Governance and Community Right dengan pendekatan partisipatif, mengajak peserta mendiskusikan bagaimana prinsip-prinsip inklusi dan keadilan dapat diterapkan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan hutan di tingkat lokal.
Pelatihan ini menggunakan metode interaktif dan mendorong partisipasi aktif dari seluruh peserta, baik dalam sesi diskusi kelompok maupun perumusan rencana aksi. Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran perempuan dan kelompok marginal dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pengembangan dan pengujian modul pelatihan yang akan digunakan lebih luas dalam konteks riset regional di Asia Tenggara. Ke depan, hasil dari pelatihan ini diharapkan dapat menjadi masukan kebijakan bagi pengelolaan hutan yang lebih adil, setara, dan inklusif.
Dilaporkan oleh LeSEHan_NewsNetwork.