Kegiatan

Trenggalek Gelar FGD Parapihak, Bupati Sampaikan Visi Net Zero Carbon 2045
2025-02-27     Gender dan Keadilan Ekologi
Trenggalek, 24 Februari 2025 – LeSEHanNewsNetwork
Pemerintah Kabupaten Trenggalek bekerjasama dengan Lembaga Studi Ekosistem Hutan (LeSEHan) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Parapihak yang berlangsung istimewa tahun ini. Kegiatan ini dihadiri oleh Tim Recoftc, Tim Peneliti CN 010/021/025, Lembaga Studi Ekosistem Hutan (LeSEHan), Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek, Asisten Ekonomi, serta Kepala Dinas terkait beserta staf. Meski Bupati Trenggalek, Muchamad Nur Arifin, tidak dapat hadir secara langsung karena sedang mengikuti retreat seluruh kepala daerah terpilih di Indonesia, beliau menyampaikan sambutan melalui video pidato.
Dalam pidatonya, Bupati Nur Arifin menegaskan komitmen Trenggalek untuk mencapai visi jangka panjang 2045, yaitu Net Zero Carbon dengan pendapatan tinggi dan daya saing kolektif. "Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan aksi kolaborasi dari semua pihak," ujarnya.
Bupati juga memaparkan bahwa berdasarkan riset Green House Gas (GHG) Emission Progress, Trenggalek telah mencapai status carbon net sink sejak 2017 dan 2018. Artinya, penyerapan karbon di wilayah ini lebih besar daripada emisi yang dihasilkan. "Ini menjadi bukti bahwa upaya pelestarian alam kami membuahkan hasil," tambahnya.
Ekonomi Berbasis Alam
Trenggalek memilih visi berbasis alam karena 25% perekonomian masyarakat bergantung pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Selain itu, industri dan manufaktur yang berbahan baku produk pertanian serta sektor jasa perhotelan juga sangat bergantung pada kondisi alam. "Kami ingin ekologi dan ekonomi berjalan beriringan, sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat," jelas Nur Arifin.
Salah satu contoh nyata adalah keberhasilan masyarakat Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, yang melakukan konservasi penyu dan melestarikan hutan melalui skema Perhutanan Sosial. Kawasan yang sebelumnya dikelola oleh Perhutani, kini resmi dikelola oleh masyarakat setempat. "Kami ingin mengembangkan kawasan terpadu yang melestarikan hutan dan alam, sekaligus mengukur nilai karbonnya," ujar Bupati.
Menolak Tambang Emas, Memilih Menambang Karbon
Bupati juga menyinggung ancaman rencana pertambangan emas besar-besaran di Trenggalek. Meski secara ekonomi menggiurkan, Nur Arifin menegaskan bahwa kerugian lingkungan dan sosial yang ditimbulkan akan jauh lebih besar. "Daripada menambang emas, kami lebih memilih menambang karbon. Misalnya, dengan menjaga pesisir pantai, lahan basah, hutan, mengurangi konsumsi energi, dan memanfaatkan sumber daya terbarukan," tegasnya.
Trenggalek, yang dikelilingi perbukitan dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, memiliki potensi alam yang luar biasa. "Rumah kami adalah hutan, dan Samudera Hindia adalah halaman rumah kami. Inilah mimpi masyarakat Trenggalek," pungkas Bupati.
Kegiatan FGD Parapihak ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian, dan masyarakat dalam mewujudkan visi Trenggalek sebagai kabupaten ramah lingkungan dan berkelanjutan.
(Reporter: LeSEHanNewsNetwork)

Kegiatan
Agenda
18
Jul '24
Sub-tim Jawa Timur: Workshop P...
09.00 - 13.00 wib
Meeting room Work n' Play Coffee and eatery - Madiun
17
Jun '24
Sub-tim Laos: Analisa Data ...
08:00 - 12:00
Meeting room Campus
10
Jun '24
Sub-tim Jawa Timur: Analisa Da...
09.00 - 13.00 wib
Meeting Room Joglo Manies Resto - Ponorogo
09
Jun '24
Sub-tim Laos: Pengumpulan data...
08:00 - 16:00
Khammouan Province
Kontak Kami

Gedung Perhutani Forest Institute (PeFI) Sayap Selatan Lantai 2
Jl. Rimba Mulya No.11, Kartoharjo, Kec. Kartoharjo, Kota Madiun, Jawa Timur 63117

Didukung Oleh